17.11.09

KISSしたままさようなら

Cinta adalah sesuatu yang begitu berharga namun ia begitu lemah dan rapuh. Ketika semua itu sirna, hati takkan sanggup menanggungnya. Tubuh akan perih dan hancur. Pikiran kacau dan terombang-ambing. Hanya pada akhirnya air mata yang bisa keluar dan menetes..

Blink.. smell it… and feel it.. open.. open your eyes… just look at me now*…

“Tiiiit…..tiiiiit…..tiiit….” mesin itu terus berbunyi sejak 3 tahun yang lalu tanpa henti. Menggambarkan garis-garis kehidupan yang tak pernah berhenti sejak 3 tahun lamanya itu. Nafasnya pelan namun detak jantungnya stabil tak bergejolak, ia pucat namun terlihat sangat damai. Lelaki di sampingnya tampak begitu lelah dan sedih. Ia memegang tangan gadis itu dengan begitu lembut, membersihkan muka gadis itu dengan perlahan. Perempuan itu tetap terdiam. Lelaki itu tak bisa menahan tangis. Tetes demi tetes air mata keluar dari matanya .Penantiannya begitu lama namun harapan tersebut tak kunjung datang.

“Yoochun, Park Yoochun.” ucap lelaki itu

“BoA ,Kwon Bo A.” balas perempuan itu sambil tersenyum

Itulah pertemuan pertama mereka 4 tahun yang lalu. Di sebuah auditorium yang luas dan penuh kesibukan. Hanya mereka berdua yang terdiam dan saling memandang satu sama lain.. Seakan saling mengenal namun tak kenal. Serasa begitu dekat, namun juga jauh. Sedua buah tali nasib yang kemudian bertemu dan terjalin satu.

“BoA, sekarang giliran solomu!” panggil Seo Seong Jin, pelatih balet itu,”Hey, Park Yoochun mainkan lagunya.”

“Moderato Yoochun!” pinta Seong Jin,“ BoA, sesuai rutinmu namun pada akhirnya dengan sebuah Fouetté rond de jambe en tournant[1] lalu arabesque penchée[2]!”

“Ya, segera” balas Yoochun dan Boa bersamaan. Mereka saling menatap dan tersenyum.

“Ok, Moderato.” ucap Yoochun kecil. Dia pun duduk di grand piano itu, dan membuka buku lagu itu untuk pertama kalinya.

Fouetté , lalu arabesque penchée.” ulang BoA, dalam hatinya

“OK? One Two Three” hitung Seong Jin.

Piano pun mulai berdenting dengan alunan sedang, moderato. Grand Plie[3],lalu sebuah Pirouette[4], setiap gerakannya begitu halus seakan-akan satu nafas dengan tiap nada yang keluar dari grand piano itu . Begitu pas dan sempurna untuk mereka yang baru pertama kali bertemu.

“Kwon BoA-ssi!”panggil laki-laki yang berlari ke arah seorang perempuan cantik.

“Nde? [5]” jawab perempuan itu agak kebingungan,“Park Yoochun-ssi?”

“Apakah..hmm…kamu ada waktu luang?”Tanya Yoochun agak terengah-engah,”saya ingin mengajak anda makan malam.”

“Nde?! A…a..a ada.” jawab perempuan itu kaget,”tapi…”

“Hanya makan malam saja.” jelas Yoochun dengat cepat,”I promise.”

Yoochun pun mengajak BoA makan ke sebuah restoran mahal, namun perempuan itu menolak dengan halus. Perempuan itu merasa tidak enak apabila nantinya Yoochun membayar bill makanan yang mahal di restoran itu. Lebih baik makan di tenda makan itu saja kata BoA kepada Yoochun. Daging panggang, dan Soju[6]pun menemani makan malam mereka. Mereka tertawa dan tersenyum setiap kali mendengar cerita tentang satu sama lain.

Bulan pada malam itu begitu bulat dan terang. Mereka berdua pun duduk di sebuah kursi panjang di dekat sungai. Bulan itu pun terlihat jelas di mata mereka, dan juga di pantulan sungai. Bir kalengan pun menjadi teman bicara mereka di tepi sungai itu. Mereka terus berbicara dan memandang sepanjang malam itu. Mereka telah jatuh cinta. Hingga pertemuan pertama itu begitu membekas di hati mereka, dan takkan mungkin mereka lupakan bahkan dalam tidur mereka.

Di rumah sakit itu, semua orang sudah tahu tentang seorang lelaki yang selalu menunggu seorang perempuan koma selama 3 tahun. Semua orang sedih mendengar kisah mereka, namun mereka tidak bisa melakukan apapun. Koma, adalah suatu keberuntungan untuk bisa bangun kembali dari tidur abadi tersebut dan harapan yang ada sangatlah kecil. Begitu pula kondisi perempuan itu, tak berbeda dan hampir tak ada harapan.

Di ruangan kecil itu, terlihat seorang lelaki memegang tangan perempuan itu, mencium keningnya, dan mengelus rambutnya dengan lembut. Lelaki berjalan keluar kamar itu ditemani olah seorang suster. Ia dipanggil oleh dokter, begitu kata suster itu. Lelaki berjalan lemah dan sedikit perasaan tegang terlihat di mukanya.

Ketika mereka berdua tiba di depan kantor dokter itu, lelaki itu terdiam. Ia terus memandangi pintu itu. Suster itu pun mengetuk pintu, dan memberitahu bahwa lelaki itu telah sampai. Dokter pun menyuruhnya masuk. Lelaki baru tersadar saat dipanggil suster yang menyuruhnya masuk. Ia pun masuk dengan perlahan dan duduk di sebuah kursi, menatap dokter itu.

“Yoochun-ssi, Kurasa sudah tidak harapan lagi baginya.” Ucap dokter itu.

“Maksud anda?” Tanya Yoochun, bingung.

“Seperti yang anda ketahui. BoA-ssi, sudah tertidur atau koma selama kurang lebih 3 tahun”

“Ya, Lalu?” ucap Yoochun tak sabar, mukanya semakin terlihat tegang.

“Pihak rumah sakit menyarankan untuk memutuskan alat-alat penyandang hidupnya, karena sudah tidak ada harapan lagi.” Jelas sang dokter.

“Eh? Maksud anda? BoA akan ‘pergi’? Tidak…tidak…. Dia pasti akan bangun, aku tahu dia. Dia kuat dan.. dan…” ucap Yoochun, mukanya memucat.

“Maafkan kami, namun pihak keluarganya sudah menyetujui hal ini. Keputusan ini memang berat namun semua metode sudah kami usahakan. Keluarganya sudah menerima kepergiannya.”

“TIDAK! Tidak! Ia pasti bangun! Aku akan membuatnya bangun. Pasti! Di..a Di..a pasti bangun..” tetesan air mata mulai keluar begitu ia berkata demikian, ia mengacak-acak rambutnya dan memegangnya.

“Tapi.. Yoochun-ssi, Pihak keluarga sudah setuju untuk melakukan prosedur ini. 3 Hari lagi.”

“TIDAK! Dia pasti akan bangun dalam kurun waktu itu.”

Yoochun berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Tangisannya tidak tertahan, dan membuat bayangannya menjadi kabur, tidak tahu harus kemana. Ia terus berjalan dan akhirnya sampai di jalan raya yang ramai itu. Ia lelah dan marah. Napasnya tersengal-sengal, asmanya mulai kambuh. Ia tidak tahan lagi. Tangannya berusaha mencengkeram bumi di bawahnya. Ia berteriak sekeras mungkin hingga nafasnya habis. Tertawa terhadap nasib yang mempermainkannya. Pandangannya semakin gelap dan ia pun ‘tertidur’ dalam dinginnya pelukan jalan raya itu.

Sudah 1 tahun, sejak mereka bertemu di auditorium itu. Perempuan itu akan tampil dalam pertunjukkan balet terbesar tiap tahunnya, untuk mendapat gelar primadona ballerina dan Yoochun akan kembali menjadi pengiringnya. Mereka telah terpaut sejak pertemuan pertama mereka, dan terus menjalin hubungan sejak itu. Hari ini pula sebuah kejutan istimewa telah disiapkan oleh Yoochun.

“Dan peserta terakhir kita! Kwon Bo A yang akan diiringi oleh Park Yoochun-ssi ” Sambut sang pembawa acara, “dengan tarian gubahannya sendiri.”

Semua penonton bertepuk tangan dengan meriahnya. Semua menunggu mereka untuk muncul. Seorang perempuan berbalutkan baju balletnya yang berwarna putih dan toe shoes berwarna putih naik ke atas panggung. Ia terlihat sangat cantik. Seorang lelaki menemaninya di belakang dengan setelan jas hitam kelam. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Keduanya pun bersiap di posisi masing-masing. Dan piano lelaki mulai mengalir dengan indah, tiap dentingannya senafas denagn tiap pirouette dan grand jeté[8] perempuan itu. Indah dan mempesona.

Puluhan menit yang berlalu pun seakan-akan hilang ditelan oleh tatapan penonton-penonton. Mereka tampak terkesima dan kagum. Ketika nada terakhir dimainkan, sebuah attitude en pointe[7] pun mengakhiri pertunjukkan itu. Sedetik kemudian tepuk tangan pun bergemuruh di seluruh sudut auditorium tersebut. Teriakan “Bravo!” terdengar begitu keras bersamaan dengan berdirinya para penonton. Mereka berdua pun maju dan memberikan hormat, sebuah putaran kecil sambil bergandengan tangan serta sedua buah senyuman lebar.

Yoochun pun terbangun di atas ranjang di rumah sakit. Langit masih gelap dan berbintang. Kepalanya pusing dan nafasnya berat. Ia terlihat agak bingung dan tidak tenang. Di mana aku? Kenapa aku ada di rumah sakit? Pertanyaan itu bermunculan di kepalanya. Ia pun berdiri perlahan, jalannya agak sempoyongan. Bayangan-bayangan masa lalunya masih berputar di kepala, seperti film yang rusak. Ingatan akan 4 tahun yang lalu saat kekasihnya itu masih belum terbaring di ranjang itu. Ia terus berjalan dan tiba-tiba saja, sudah berdiri di sebelah ranjang perempuan yang ia cintai.

Wajahnya tampak sedih. Perlahan-lahan disentuhnya wajah perempuan itu. Disentuhnya kelopak mata yang tidak pernah terbuka selama 3 tahun, dan bibir yang tidak pernah bicara. Ia pun duduk di sebelahnya sambil memegang erat jemari-jemari perempuan itu. Rapuh sekali.

“Please wake up?” ucap Yoochun,”open your eyes...”

Setiap kata yang keluar dari mulutnya, begitu perih dirasa. Hatinya hancur ketika mendengar ucapan dokter itu. Ia tidak sanggup membayangkan saat nantinya perempuan itu benar-benar pergi dari kehidupannya. Saat benda-benda asing pada tubuh perempuan itu nantinya akan dicabut. Ia tidak dapat menerimanya akan kesetujuan keluarga yang membuang anaknya sendiri.

“Keluarga?” ucap BoA,”mereka tidak setuju aku mendalami balet sebagai kehidupanku. Aku sudah lama ditinggalkan mereka”

Seketika, kepala Yoochun terasa sakit lagi. Bayangan akan masa lalunya kembali bermunculan dan terus berputar. Pandangannya mulai kabur lagi. Ia berusaha meraih kesadarannya, namun kepalanya semakin menusuk. Tangannya berusaha meraih keberadaan perempuan di depan matanya, namun kerapuhan dirinya saat itu menahannya.

“Hadirin sekalian, atas keputusan para juri perhargaan untuk Prima Ballerina tahun ini akan kami berikan kepada”, ucap sang pembawa acara,“Kwon Boa-ssi, Berikan tepuk tangan!”

Boa naik ke panggung dengan baju yang lebih santai. Perempuan itu tersenyum ke arah lelaki yang berdiri di samping panggung, dan berjalan ke depan panggung. Semua penonton bertepuk tangan dan berdiri dari tempat duduk mereka. Ia pun melihat ke arah lelaki itu dan memintanya naik ke atas panggung bersamanya. Lelaki hanya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya tanda tidak mau. Boa membalasnya juga dengan senyum dan kemudian menariknya ke atas panggung. Tepuk tangan pun makin bergemuruh.

“Kamsa Hamnida[9]. Julmang[10] kamsa hamnida. Pertama-tama, saya ingin berterima kasih kepada Tuhan, Keluarga saya di rumah, Seo Seong Jin-ssi yang dengan sabar mau mangajariku balet. Kamsa Hamnida. Dan terakhir adalah Park Yoochun yang berbaik hati mau mengiringiku” ucap Boa sambil berbalik badan ingin meminta Yoochun untuk maju namun… dia tidak ada.

“Para penonton sekalian, saya ingin meminta waktu anda sekalian untuk menampilkan sesuatu special untuk anda sekalian, khususnya untuk BoA-ssi. Sebuah lagu berjudul ‘You Only Love’. Semoga kalian semua menyukainya.” ucap Yoochun yang sudah duduk di depan piano. Ia tersenyum.

Perempuan itu terlihat sangat kaget, dan tersenyum. Dia begitu senang dan terlihat seperti ingin menangis. Semua penonton setuju, dan terdiam begitu alunan piano berbunyi. Sebuah lagu ballad yang mellow dan manis. Hangat dan penuh cinta. Dengan kata-kata cinta yang dinyanyikan penuh penghayatan oleh pianis itu. Semua penonton terharu dan banyak yang menangis tak kuat menahan emosinya. Boa pun menutup mulutnya dan berusaha menahan tangis harunya.

“…You only love my life” kalimat terakhir lagu itu pun dinyanyikan Yoochun dengan begitu merdu.

Yoochun pun berdiri dan membungkuk kepada para penonton. Ia pun berjalan ke depan panggung dan menghadap perempuan yang sedang menangis haru karenanya. Ia tersenyum, dan berjalan perlahan ke hadapan perempuan itu. Boa hanya bisa tersenyum haru saat melihat Yoochun di depannya namun tidak dapat berhenti menangis. Yoochun menghapus air mata pada wajah perempuan di hadapannya, dan memeluknya.

“Hadirin sekalian, Saya ingin anda sekalian menjadi saksi kejadian ini” ucap Yoochun.

Ia mengambil sebuah kotak kecil dan berlutut. Ia tersenyum kepada Boa. Kemudian ia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah cincin perak dengan ukiran di bagian dalamnya, ’ You only love my life’. Boa tampak terkejut dan matanya tampak berkaca-kaca.

“Will you marry me? Kwon Boa-ssi.. ” tanya Yoochun sambil berlutut. Senyum tampak di mukanya.

Yoochun terbangun oleh teriknya sinar matahari dari jendela kaca yang besar itu. Di dalamnya masih tersisa kenangan yang baru saja bermain di dalam kepalanya semalaman. Tangannya masih terus memegang tangan kekasihnya itu. Ia berusaha berdiri namun kepalanya masih saja terasa berat dan pandangannya menjadi gelap sesaat. Ia berusaha mencari pegangan dan bertahan. Ia merasa lemah dan tidak berguna. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mendorong badannya untuk berdiri.

Cahaya matahari yang terik menyilaukan matanya ketika ia berhasil berdiri tegak. Ia melihat kalender di depan matanya. Tinggal 1 hari lagi, begitu suara hatinya berbicara. Ia berjalan perlahan ke arah Boa. Mengelus rambutnya dan mencium keningnya. Namun tetap tidak ada reaksi. Yoochun pun duduk di sebelah ranjang itu. Ia menatap sosok tubuh mungil dan rapuh itu. Digenggamnya tangan kecil itu dan dikecupnya dengan hangat. Ia ingin menangis namun air mata tidak mau keluar.

Yoochun pun mulai bercerita kepada perempuan yang terus tertidur itu. Saat mereka pertama kali bertemu di auditorium itu, saat Yoochun jatuh cinta kepadanya. Saat dengan memalukannya, Ia mengajak perempuan cantik itu makan malam bersama. Saat ia merasa kaget saat ajakan makan di restoran ditolak akan tetapi malah diajak makan di sebuah kedai barbeque kecil. Sambil bersulang soju dan makan daging begitu banyak serta bercerita tentang diri masing-masing. Ia juga teringat ketika dia menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘You only love’ gubahannya, di tepi sungai sambil minum sekaleng bir bersama perempuan itu. Yoochun tersenyum saat ia bercerita bahwa ia tertawa saat mendengar cerita Boa ketika toe shoesnya terlempar saat melakukan pirouette. Ia pun menoleh ke arah perempuan di sampingnya, namun perempuan itu tetap tertidur.

“Kamu masih ingat kan?” tanya Yoochun. Tahu bahwa ia tidak akan dijawab

Semua penonton terdiam, dan menyaksikan dengan penuh keingintahuan. Muka Boa memerah dan senyum merekah di wajahnya yang kecil. Tetes-tetes air mata berjatuhan dan jari-jemari yang ramping berusaha menghapusnya. Namun air matanya terlalu banyak dan terus mengalir. Penonton terharu melihat Boa yang menangis dan banyak penonton perempuan yang ikut menangis. Yoochun tersenyum kepadanya. Boa pun membalasnya dengan senyuman dan sebuah anggukkan kepala.

“Yes, I will.” jawab Boa

Yoochun pun tersenyum atas jawaban itu. Ia pun mengambil tangan Boa dan memasukkan cincin itu ke ke jari manis perempuan di hadapannya. Perempuan dengan matanya yang sembab itu pun tersenyum. Yoochun pun berdiri dan memberikannya sebuah pelukan hangat. Semua orang yang melihat kejadian itu pu bertepuk tangan dengan meriahnya. Semuanya terlihat senang, namun kedua orang itulah yang lebih merasakan hal itu. Mereka berdua tersenyum sambil melihat ke arah para hadirin. Tawa kecil keluar dari mereka berdua.

Yoochun pun mencium kening perempuan dalam pelukannya itu, dan Boa membalasnya dengan sebuah senyuman. Tiba-tiba saja semua terlihat hitam dan gelap. Semuanya terkejut dan ada pula yang berteriak. Boa pun semakin mempererat pelukannya terhadap Yoochun. Seluruh gedung tersebut mengalami mati lampu. Yoochun menenangkan Boa dan mengelus rambut perempuan itu.

Sang pembawa acara pun tidak menyangka hal ini akan terjadi. Ia pun sibuk berusaha menenangkan para penonton yang kaget. Para panitia berlarian dan berusaha menghidupkan kembali listrik. Keadaan menjadi sedikit kacau. Pusat pengontrolan panggung menjadi sedikit kacau, dan terjadi sedikit kerusakan pada panel lampu panggung. Sedikit percikan listrik keluar dari panel tsb.

Ketegangan dan kepanikan pun segera hilang begitu lampu menyala kembali dan semua kembali terang. Penonton mulai tenang, dan terlihat wajah yang lega dari para panitia. Yoochun pun meregangkan pelukannya terhadap Boa. Perempuan itu tetap gemetaran karena ketegangan yang barusan saja terjadi. Yoochun tersenyum padanya sambil mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja dan bahwa ia sudah boleh membuka matanya. Boa pun perlahan-lahan membuka matanya dan menatap mata lelaki di hadapannya.

Bunyi “dug..dug..dug” terdengar dari arah ruang control panggung. Yoochun dan Boa membalikkan badan mereka dan melihat wajah panik para petugas di balik kaca ruang control tersebut. Tangan mereka semua menunjuk ke atas mereka berdua. Mereka terlihat panik dan ketakutan. Seorang panitia berlari-berlari sambil berteriak-teriak, namun tidak terdengar jelas. Yoochun dan Boa terlihat bingung. Namun akhirnya mereka berdua pun mendengar kata-kata yang diteriakkan panitia itu.

“Lihat ke atas kalian! Pergi dari situ!!!”

Terlambat bagi mereka untuk menyadari kalimat itu. Ketika mereka berdua melihat ke atas, sebuah lampu panggung dengan percikan listriknya jatuh. Semua seketika berlangsung lambat dan tidak dapat disadari. Penonton berteriak histeris dan panik. Para panitia berlarian. Sang pembawa acara berlari ke atas panggung. Dalam beberapa detik terakhir itu, Boa memandang Yoochun dan tersenyum kepadanya. Yoochun bingung dan kaget, ketika tiba-tiba dia sudah terhempas dari Boa. Di hadapannya, hanya terlihat Boa yang terus tersenyum padanya dan lampu yang sedetik kemudian dapat meremukkannya. Yoochun pun segera bangun dari jatuhnya, dan berlari ke arah tunangannya itu. Namun ia tertahan oleh pembawa acara yang menariknya. Ia memberontak melepaskan diri akan tetapi ia terdiam saat ia melihat kekasinya tertimpa lampu panggung itu.

Hari ini adalah hari ketiga. Terlihat di ruangan kecil itu, seorang laki-laki yang terus memegang tangan perempuan yang nyawanya sudah di ujung tanduk dan sebentar lagi akan dicabut. Laki-laki itu terus membisikkan kata-kata di telinga perempuan itu. Tanpa rasa bosan, dan penuh dengan perasaan. Begitu menyayat hati jikalau didengar dan menusuk saat kita melihat.

“You only love I can’t never give up…” nyanyian itu begitu merdu dinyanyikan oleh Yoochun,”you only love my life….”

Laki-laki terus-menerus menyanyikan lagu itu dan bercerita tentang banyak hal kepada perempuan itu. Apa yang ia makan dan minum hari ini. Apa saja yang ia lakukan hari ini. Tiap detik dan tiap nafasnya diceritakan kepada perempuan itu. Sulit bagi setiap orang yang melihatnya untuk tidak terharu. Yoochun memegang tangan Boa dengan lembut, di jari manisnya masih terdapat cincin perak itu. Laki-laki itu mencium kening perempuan itu. Dibisikkan sebuah kata, ‘Saranghe[11]’ dan ketika itu juga sebuat tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata laki-laki. Tetesan air mata itu jatuh ke pipi perempuan itu, seakan-akan perempuan itu yang menangis.

Dokter dan suster pun berdatangan secara tiba-tiba, mereka telah siap untuk mencabut alat-alat bantu tersebut. Melihat kejadian itu, sang dokter merasa tidak tega; namun keputusan itu telah ditentukan oleh pihak keluarga perempuan itu sendiri. Memang terkadang seorang dokter hanya dapat mengikuti keputusan yang ada, tanpa campur tangan apapun dan terkadang tidak manusiawi.

Suster-suster perempuan pun mulai berkaca-kaca matanya. Namun, mereka mulai mencoba membujuk Yoochun untuk menjauh sebentar dari Boa-ssi karena adalah sebuah tugas dan formalitas bagi mereka. Yoochun menolak dan terus menatap perempuan di hadapannya.

“Open…,open you eyes…, Just look at me now..” ucapnya dengan nada yang mengiris hati.

Banyak pasien lain yang mengintip kejadian itu, dan sebagian besar dari mereka merasa turut sedih. Beberapa suster-suster perempuan itu memalingkan wajah mereka, tak tahan melihat kejadian ini. Dokter itu pun menyuruh dokter muda dan suster laki-laki untuk menarik Yoochun pergi dari tempat itu. Yoochun menolak, namun mereka lalu menarik badannya. Lelaki itu pun berusaha melepaskan badannya. Sementara dokter itu pun berjalan ke arah Boa, dan mulai bersiap-siap.

Semua kembali terputar di kepala laki-laki itu. Ketika dirinya tidak bisa berbuat apapun demi menyelamatkan perempuan yang dikasihinya. Auditorium, lampu yang akan jatuh, Boa yang berdiri dengan senyumnya, serta dirinya yang ditarik menjauh saat ingin menyelamatkan kekasihnya itu. Rekaman ingatan itu seakan kembali datang menghantuinya, dirinya yang sekali lagi dipaksa untuk menjauh dari kekasihnya itu. Emosi yang tidak karuan menutup matanya. Ia memberontak, dan berteriak. Tangisan penuh emosi bercucuran dari matanya. Namun seperti dulu, semua itu kembali terhenti seperti waktu itu, sekarang ketika mesin itu menggariskan sebuah garis lurus yang tiada henti dan tanpa liku.

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt…..”

Tatapan laki-laki kembali kosong. Terjatuh dari dirinya dan hanya dapat bertumpu pada lututnya. Seluruh badannya terasa lemah dan penuh dengan rasa lelah. Ia tidak dapat mempercayai hal yang baru saja terjadi. Semua sudah berakhir. Penantiannya dan juga nyawa kekasihnya itu. Bukan hanya laki-laki itu saja yang meneteskan air mata, namun juga semua orang yang melihat kejadian. Tak pelak juga sang dokter itu.

Dengan segenap tenaga yang tersisa, Yoochun pun memaksa badannya untuk bangun dan berjalan menuju perempuan yang dikasihinya itu. Setiap langkah terasa berat dan seperti melayang. Pandangan terlihat kabur karena air mata yang kembali mulai membasahi pelupuk matanya. Ia pun kembali terjatuh di lututnya ketika ia tiba di samping ranjang perempuan itu. Yoochun memegang tangan perempuan itu dengan begitu erat. Tetes-tetes air mata pun turun di pipinya dan membasahi tangan perempuan itu, dan seketika itu juga…

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…………….tiit…tiit..tiit…tiit..”

Suara dari mesin itu berubah dan garisnya membentuk sebuah garis tak beraturan ke atas dan ke bawah namun dalam sebuah frekuensi yang stabil. Semua orang terkejut ketika mendengar dan melihatnya. Begitu pula Yoochun yang sedang memegang tangan perempuan itu. Perlahan-lahan jari-jemari perempuan itu mulai bergerak, dan rona wajahnya sudah mulai berubah. Dokter yang melihat kejadian itu terlihat sangat terkejut, sama seperti yang dirasakan oleh Yoochun. Mata perempuan itu mulai bergerak secara perlahan-lahan, dan kemudian ia mulai membuka matanya. Semua orang mulai mendekat secara perlahan ingin melihat. Yoochun bergerak mendekati kekasihnya itu, dan membelai rambutnya.

Ketika perempuan itu membuka matanya, lelaki itu tidak dapat menahan tangis harunya. Sebuah senyum yang penuh kehangatan merekah dari wajah pucat perempuan itu ketika ia melihat tersenyu tetapi juga menangis melihatnya. Lelaki itu tampak senang, Ia pun segera memeluk perempuan itu. Kebahagiaan, itulah yang dirasakan oleh mereka berdua dan juga semua orang yang menyaksikannya.

Semuanya terdiam begitu melihat hal yang baru saja terjadi. Yoochun pun melepaskan dirinya dari pegangan sang pembawa acara dan berlari menuju Boa. Pemandangan yang begitu memilukan hati lelaki itu. Yoochun pun terjatuh di atas lututnya. Pandangan kabur dan perasaannya kacau tidak karuan. Lantai itu bersimbahkan darah, dan pecahan kaca lampu panggung itu. Hatinya hancur melihat kejadian itu dan tidak dapat mencegahnya. Ia ingin berteriak namun tidak bisa dikeluarkannya, hanyalah hatinya yang menjerit di dalam. Ia , dengan perlahan mengangkat kepala perempuan itu dan membersihkan darah pada wajah perempuan itu. Mencium keningnya dengan hangat dan tetesan air matanya berjatuhan ke atas wajah perempuan itu. Tangannya bergetar dan bersimbahkan darah.

Sementara itu, panita-panitia acara itu segera berlarian mencari bantuan. Menelpon ambulance, menenangkan para penonton lainnya, dan berlai menuju panggung untuk melihat keadaan menggenaskan tsb. Dengan perlahan-lahan, Yoochun mengangkat tubuh Boa dan pada saat itu ambulance tiba di tempatnya itu. Boa pun dibawa ke rumah sakit.

“Bisa dibilang ini adalah sebuah keajaiban. Ia masih dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Tetapi , ia mengalami koma.” ucap dokter itu.

“Apakah berarti ada harapan?” tanya Yoochun, penuh dengan kekhawatiran.

“Ya ada, tetapi sedikit sekali. Karena koma adalah penyakit yang hany dapat sembuh dengan sendirinya. Pihak rumah sakit hanya dapat memberi dukungan untuk kelangsungan hidupnya.” jelas dokter itu.

“Apakah kamu sudah merasa lebih nyaman” tanya lelaki itu, sambil membantu perempuan itu untuk duduk.

“Nde, Kumao[12]” jawab perempuan itu sambil tersenyum.

“Are you hungry? Kamu kurus sekali seperti papan. Mau makan apa?”,tanya laki-laki itu,”kimbab[13]? Bulgogi[14]? Buatanku yang paling enak lho!”

Ya[15].. waktu itu kimbabmu asin sekali!”,jawab perempuan itu,”asin sekali! Dan bulgogimu gosong! Hahahah..”

Koh ji mal[16], kapan masakanku gagal?” protes lelaki itu

Di dalam ruangan itu, terlihat sebuah pemandangan yang begitu bahagia. Perempuan yang telah tertidur selama tiga tahun itu, telah terbangun dari tidurnya. Boa terlihat begitu segar dan sehat sekali seperti tidak pernah sakit. Sementara Yoochun terlihat sangat bahagia, dan selalu tersenyum setiap kali ia bertemu suster, dokter, dan pasien lainnya. Lelaki itu selalu menyapa setiap orang yang lewat ataupun hanya sekedar bertemu pandang. Ia mengenal mereka semua dan semua orang senang karena mereka melihat lelaki itu senang. Sudah terlalu lama baginya untuk bersedih dan tidak merasakan kebahagiaan.

Siang itu, Yoochun mengajak Boa berjalan-jalan keluar. Yoochun mendorong sebuah kursi roda ke dekat ranjang kekasihnya itu. Boa terlihat bingung. Ia tidak tahu caranya turun ke kursi itu, badannya masih terasa sangat lemah dan lemas. Yoochun tersenyum nakal melihat hal itu. Boa menyadarinya dan melihat mata lelaki itu sambil menggelengkan kepala. Laki-laki itu tersenyum nakal dan berjalan mendekati perempuan itu. Boa berteriak geli dan memukul lemah saat Yoochun mengangkat tubuhnya bak seorang putri dan mendudukinya di kursi roda itu. Mereka berdua pun tertawa.

“Ya! Park Yoochun! Infusku hati-hati!” perintah Boa sambil tersenyum nakal.

“Nde, Kwon Bo A-ssi.. Arasso[17]” jawab Yoochun sambil berlagak bagai pelayannya.

Yoochun pun mendorong kursi roda perempuan itu keluar dari kamar kecil itu. Boa terlihat begitu senang dapat keluar dari kamar rumah sakit tersebut. Mereka berdua menyapa tiap orang yang lewat di depan mereka. Semua orang senang melihat mereka berdua. Sangat cocok! begitu komentar mereka semua. Yoochun memutar kursi roda itu keliling, dan membiarkannya berjalan sendiri. Boa berteriak-teriak ketika ia hampir menabrak seorang suster. Yoochun pun segera menangkap kembali kursi roda itu. Boa memukul lemah Yoochun dan mencubit pipinya.

“Yoochun-ssi, if I fall what would you do?”tanya Boa,”jangan ulangi lagi ya? Aku jantungan tau.”

“Hahaha, kamu mestinya tadi lihat muka kamu! Lucu sekali. Apalagi ketika hampir menabrak suster Han.” jawab Yoochun nakal
Mereka pun akhirnya tiba di taman belakang rumah sakit. Di sana tersedia jalanan untuk kursi roda dan banyak terdapat bunga dan pohon-pohonan yang rindang. Yoochun membawa Boa dengan hati-hati. Ia kapok dicubiti berkali-kali oleh perempuan itu. Daritadi mereka sudah sempat berkeliling sebentar di rumah sakit dan mengajak Boa untuk berkenalan dengan dokter dan suster yang merawatnya selama tiga tahun ini.

Ketika mereka mengelilingi taman itu, mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Sebuah space yang besar dan dalam terasa saat mereka terdiam. Sudah tiga tahun, tiga tahun lamanya mereka tidak bertemu pandang dan tidak berbicara. Tidak merasakan sebuah kehangatan yang ada, hanya ketika mereka berdua. Mereka berdua tidak tahu sebenarnya apa yang harus dibicarakan dan apa yang dapat dibagi di antara mereka berdua. Semua, sebenarnya mereka ingin berbagi semua dan ingin melepaskan rasa rindu yang begitu besarnya. Namun, sudah terlalu lama, sulit dan membingungkan bagi mereka untuk menunjukkan.

“Ya! Park Yoochun-ssi, ingat cincin ini?” tanya Boa sambil menunjukkan cincin perak yang terkait di jari manisnya.

“Ya. Apakah kamu tahu? Ukiran yang terdapat pada cincin itu?” jawab Yoochun sambil tersenyum.

“Arayoo.. ‘You Only Love My Life’. “ jawab Boa,”Nomu chuwa[18}. Judul lagumu kan?”

“Ne, Boa-ssi. Saranghe yo” ucap Yoochun tiba-tiba, “Pogosiposo[19]

“Da du.. [20]” jawab Boa, mukanya memerah.

Mereka berdua pun tersenyum kepada satu sama lain. Yoochun dan Boa pun kembali terdiam berdua. Angin sepoi-sepoi mengalir di antara mereka, begitu segar dan menenangkan. Rambut perempuan itu menjadi berantakan karenanya. Lelaki itu tersenyum kecil dan membantu perempuan itu merapikan rambutnya. Mereka bertatapan sejenak ketika pandangan mereka bertemu. Perempuan itu tersenyum, dan laki-laki itu mencium kening perempuan itu.

“Kembali ke kamar, mau?” tanya Yoochun,”anginnya sudah mulai dingin dan langitnya sudah mulai gelap.”

“Ya ayo.” Jawab Boa sambil tersenyum nakal,”walaupun sedikit tidak rela.”

Yoochun mendorong kursi roda Boa ke arah pintu masuk rumah sakit. Mereka berjalan melewati sebuah toko buah kecil di rumah sakit itu. Sekumpulan apel segar berwarna merah menangkap perhatian mereka. Laki-laki itu tahu bahwa perempuan yang dikasihinya itu sangat menyukai apel. Yoochun pun dengan isengnya mendorong Boa pergi dari pandangan menggoda itu. Boa tahu bahwa Yoochun sengaja dan tersenyum. Mereka pun akhirnya tiba di kamar rumah sskit Boa. Laki-laki itu pun membantu Boa untuk naik kebali ke ranjang.

“Park Yoochun-ssi, sagwa[21].” ucap Boa,”Bisa tolong belikan aku apel?”

“Arayoo, aku tahu kamu pasti mau.”jawab Yoochun,”terlihat sekali dari wajahmu tadi.”

Mereka berdua pun tersenyum. Ketika Yoochun akan keluar dari kamar itu, perempuan itu menarik tangannya. Sebuah pelukan hangat diberikan oleh perempuan itu. Lelaki itu terlihat sedikit terkejut, namun ia membalas pelukan hangat itu. Saat pelukan itu berakhir, mereka bertatapan sejenak. Pandangan Boa terlihat sangat sedih, akan tetapi hal itu tak disadari oleh lelaki itu. Sebuah kecupan hangat terasa begitu bibir mereka bertemu. Singkat namun penuh dengan perasaan. Yoochun pun tersenyum dan pergi untuk membeli apel sebentar. Lelaki itu tidak mengetahui tetesan air mata yang keluar dari mata perempuan itu saat Ia pergi meninggalkan kamar tsb.

“Saranghe yo, Park Yoochun. Julmang saranghe. Forever….” ungkap Boa sambil melihat kepergiaan laki-laki yang dicintainya itu. Ketika itu juga tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Lelaki itu terlihat bahagia ketika ia menuju ke toko buah tsb. Ia memilih apel-apel yang akan ia beli, dan mengantri untuk membayarnya. Antrian tsb agak penjang, dan ia harus menunggu. Ia tersenyum ketika membayangkan wajah perempuan itu, ketika melihat apel kesukaannya itu. Ketika laki-laki kembali menuju kamar, ia melihat sebuah toko bunga kecil yang menjual mawar merah. Ia pun tergoda untuk membelikannya untuk membeli sebuket mawar merah tersebut. Ia tersenyum ketika mencium bunag tsb. Wangi dan menawan.

Pintu lift pun terbuka ketika Yoochun tiba di lantai tujuannya. Ia berjalan sambil tersenyum. Mencium bunga itu sambil membawa seplastik buah apel merah. Ia tidak menyadari suster-suster yang berlarian di sampingnya. Namun, ketika ia mengangkat kepalanya, ia terkejut melihat orang-orang berkumpul di depan kamar kekasihnya itu. Senyumnya mulai menghilang ketika ia melihat beberapa orang menangis dan memandang dirinya dengan tatapan yang menyedihkan. Ia berjalan cepat menuju kamar itu, dan menerobos masuk untuk melihat apa yang telah terjadi. Seketika itu juga, apel berjatuhan dan menggelinding menjauh. Begitu pula sebuket mawar merah yang terjatuh ke lantai kamar tsb.

“Hana…dul..set..”ucap dokter itu, dan seketika itu alat pacu jantung itu ditempelkan ke bagian dada Boa.

Senyum lelaki itu sirna. Ia melihat ke sebuah garis lurus yang tergambar, dan wajah perempuan yang dikasihinya itu tidak berekspresi. Ia pun melangkah perlahan. Dokter itu pun terus menghitung dan menempelkan alat pacu jantung itu ke jantung Boa, namun tidak ada perubahan.

“Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit………………..”

Sebuah garis panjang tergambar tanpa henti. Seketika itu juga, sebuah film kembali terputar di dalam kepala Yoochun. Potongan-potongan masa lalu kembali bermain di dalam kepala. Menusuk dan memaksanya. Ia pun tersungkur ke lantai. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan kesadarannya. Tangannya terus memegang kepalanya itu. Ia pun tetap berjalan, dengan ingatan yang kembali bermain di kepalanya.

“BoA ,Kwon Bo A.” balas perempuan itu sambil tersenyum.

“Nde?! A…a..a ada.” jawab perempuan itu kaget,”tapi…”

“Dan peserta terakhir kita! Kwon Bo A yang akan diiringi oleh Park Yoochun-ssi ”

“Perhargaan untuk Prima Ballerina tahun ini akan kami berikan kepada..Kwon Boa-ssi!”

“…You only love my life”

“Will you marry me? Kwon Boa-ssi.. ”

“Yes, I will.” jawab Boa

“Lihat ke atas kalian! Pergi dari situ!!!”

“Tetapi , ia mengalami koma.” ucap dokter itu.

“Please wake up?”

“Saranghe..”

“Park Yoochun-ssi, sagwa.”

Potongan-potongan ingatan itu menusuk kepala Yoochun dan tak pernah berhenti. Lelaki kembali kekesadarannya begitu ia membuka mata. Ia telah tiba di samping ranjang perempuan yang dikasihinya itu. Damai dan ketenangan terasa di wajah perempuan itu. Lelaki itu hanya berdiri tanpa bisa berkata apa-apa. Lelah dan pasrah. Seakan jiwanya telah hilang, dan keberadaannya sudah tidak berarti lagi. Ingin dia menangis sekencang mungkin namun yang keluar hanya setetes air mata. Lelaki itu kemudian memegang tangan perempuan itu dengan lembut, dan menciumnya. Dan kemudian duduk di sebelah perempuan itu… Hanya dapat membisikan sebuah kalimat…

“Julmang sarangheyo, yowoni[22]…” ucap lelaki itu sambil mencium kening perempuan itu.

無くしてかったほの骨も 俺たちい切ねも溢した熱い恋も 色はせた涙を

Nakushitekatta ho no kotsu mo oretachi setsure mo.Koboshita atsui koi mo iro waseta namida wo [23]

間がこ続くこの道に 今はいない君えキスしたまま Good Bye

Magako tsudzuku kono michi ni ima wa inai kimi e. Kisu shita mama Good Bye [24]

Suara piano itu mengalun dengan indahnya di auditorium itu. Suara yang begitu sedih dan lembut. Hanya ada seorang lelaki di tempat itu. Lelaki itu memainkan lagu tsb di hadapan kursi-kursi penonton yang kosong itu. Tidak ada yang mempersilahkannya maju dan bertepuk tangan untuknya nanti. Hanya untuk dirinya sendiri.

Long way before… Long way before[25]
ただ 泣いてないて泣いて 忘れるしかない 
Tada naite naite naite wasureru shikanai[26]

記憶に滲んだ 涙の克つわ(渇いていく)僕の心
Kioku ni nijinda namida no katsu wa (kawaiteku) boku no kokoro
[27]

Semuanya tidak ada. Hanyalah ia sendiri. Semuanya telah menghilang. Seperti ketika ia membuka mata, perempuan itu telah pergi darinya. Tetesan-tetesan air mata memang sudah tidak berguna. Apa yang telah berlalu biarkanlah hal itu berlalu, begitu kata banyak orang. Namun lelaki itu tidak bisa seperti mereka. Ia berbeda. Sehingga tetap saja, tetes demi tetes air mata berjatuhan ke atas tuts-tuts piano itu.

Long way before… Long way before

ただ 泣いてないて泣いて キスしたまま
Tada naite naite naite kisu shita mama
[28]

さよなら
sayonara…
[29]

Lagu itu pun berakhir. Sayonara, goodbye. Yoochun pun terdiam dan memandangi foto di atas grand piano tsb. Kwon Boa. Perempuan itu telah meninggalkan kehidupannya. Yoochun pun berjalan ke bagian atap auditorium itu dan membawa sebuah sebuah guci kecil berwarna putih di tangannya. Ia pun membuka tutup guci itu dengan penuh perasaan. Seketika itu pula desiran angin lembut menerbangkan abu kremasi yang terdapat di dalamnya. Yoochun tidak menangis, namun ia tersenyum kecil dengan sebuah tetesan air mata. Ia menutup matanya. Sayonara…

“A long awaiting for love that has come to an end, but then it flew away.”

Berasal dari sebuah lagu yang menginspirasi penulis

‘KISS shita mama, sayounara’

Gubahan Kim Jaejoong dan Park Yoochun dari TOHOSHINKI

Keterangan:

* berkediplah…Ciumlah…Rasakanlah..Buka..Bukalah matamu.. Lihatlah diriku sekarang…

[1] berputar berulang kali dengan 1 kaki sebagai kaki pendukung dengan 1 kaki sedang ditekuk ke dalam

[2] posisi 1 kaki dengan lutut tegak mendukung 1 kaki dengan sudut lebih dari 90O. Badan ke depan.

[3] posisi badan tegak dengan lutut menekuk ke arah luar dan dalam

[4] posisi berputar dengan 1 kaki, dimulai dengan dua kaki dalam posisi plié lalu pointe

[5] kata ya, dalam bahasa Korea

[6] minuman keras korea yang terbuat dari beras

[7] posisi di mana 1 kaki diangkat dengan lutut ditekuk pada 120O, bertumpu pada kaki yang berdiri dengan ujung jari

[8] lompatan horizontal jauh dengan melompat dengan I kaki dan mendarat dengan kaki lainnya.

[9] terima kasih dalam bahasa Korea , formal

[10] sungguh, ungkapan dengan keyakinan

[11] aku cinta kamu

[12] terima kasih bentuk informal

[13] nasi digulung dengan rumput laut, berisikan lobak. Makanan khas Korea

[14] daging panggang khas Korea

[15] hey!, dalam logat bahasa Korea

[16] bohong

[17] aku sudah tahu

[18] suka sekali,informal

[19] aku kangen padamu

[20] aku juga

[21] apel

[22] Selamanya

[23] Seperti kehilangan darah dan dagingku. Kita berdua telah mengetahuinya. Bertebaran cinta yang hangat dan juga warna-warna dari air mata

[24] Terus berjalan di jalan ini, namum sekarang sudah tidak ada kamu. Setelah berciuman, selamat tinggal

[25] Jauh sebelum saat ini...

[26] Hanya semestinya tidak menangis, aku tidak dapat melupakannya

[27] Terbayang dengan memori itu untuk dapat menahan tangis (sungguh sedih) di hatiku

[28] Hanya semestinya tidak menangis. Setelah berciuman…

[29] Selamat tinggal…

diorientasi

dikutip dari Carlos Tri Hartanto a.k.a ceno

"DISORIENTASI SETELAH GONZFEST"

yang kemudian saya balas..

"CEN, SEKARANG ORIENTASINYA YEARBOOK DAN YEARVID YA..."

yah, setelah GONZFEST ya yirbuk dan yirvid..
tidak pernah berhenti sepertinya,,,
oiya, mikirin univ dan uan jga ya...

15.11.09

dua buah event

SMA Gonzaga selalu terkenal hanya dalam suatu lingkup internal dirinya sendiri..
Mendahulukan kalangan dalam.. ya, itu sangat baik...
tapi terkadang untuk berkembang lebih dari sekarang kita harus mau membuka diri terhadap lingkungan luar dengan tentunya mengingat kalangan kita sendiri..
jangan pernah melupakan akar kita..

tahun ini kami membuka diri dengan dua buah event.
Gonzaga's Open House:
sebuah event yang dikatakan sebagai eventnya guru-guru SMA Gonzaga. Kenapa begitu? karena di dalam prosesnya sangat dapat terlihat bahwa guru-guru menggunakan kekuasaan mereka demi kesuksesan acara mereka itu. Apabila kami menolak cara mereka, kami pasti ditampar dengan sebuah pertanyaan "Kalian tidak cinta dengan Gonzaga ?!!".
Ya, pada akhirnya pertanyaan itulah yang membuat kami meninggalkan mereka (atau lebih tepatnya saya).

sebenarnya open house merupakan acara favorit saya semenjak kelas 1 karena menyenangkan dan bisa bersantai di open house. Mungkin tahun ini saja, guru-guru berambisi untuk lebih terkenal tepatnya dikenal oleh pihak luar.

Gonzaga Festival 2009
sebuah event yang oleh para guru dikatakan sebagai eventnya murid-murid. Kenapa karena mungkin panitia-panitianya adalah para murid dan ini memang adalah sebuah program dari SENAT sendiri.

mungkin satu yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah memang kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan eksternal dan memperkenalkan diri yang terbesar dari Gonzaga semenjak Lustrum..

ada sebuah poin yang ingin saya ambil berdasarkan perasaan saya secara subjektif bahwa saya dan teman2 saya menikmati keberadaan kami sebagi suatu kesatuan di dalam kepanitiaan Gonzaga Festival 2009. Saya merasa senang dan dihargai, serta bukan diperintah ataupun diancam dengan kata-kata yang memojokkan saya..

I LOVE GONZAGA AND EVERYTHING IN IT
but please don't force me
cause i will do it free willingly

11.11.09

i will still be there

you're my heartbreaker
this heartbeat will never stop
until then end of this unexpected event..
maybe i do..
but if maybe if not
it would be somewhat heartbreaking..
if i do..
joyful yet it will hurt me much more..

I'm so sorry

9.11.09

UNPAR?

I TOTALLY FORGOT ABOUT UNPAR!!!!
DAMN;!!!!

HAMPA

hal itu muncul ketika kita menemukan sebuah jalan panjang tanpa akhir.
tepatnya saat kita menemukan jalan yang kita sendiri bahkan tidak tahu jalan itu akan berakhir di mana..
intinya: panjang dan tidak berakhir

layaknya jalanan beraspal yang pasti akan rusak..
kita tersandung dan terjatuh.. kotor dan berdebu..
terluka dan bahkan terduduk kelelahan.
memandang jalanan panjang tanpa akhir..

perjuangan menuju akhir yang tidak kita ketahui..
ya, berat dan melelahkan..
aku tahu, kamu tahu, kita tahu..
kita menangis saat berusaha menggapai akhir...

kita berjalan terus..
lecet dan aus juga alas kaki kita..
hingga..
kita menemukannya

dua jalan yang berbeda..
sebuah jalan yang buntu bagi kita..
kita berhenti..
waktu terhenti,,,
kita terdiam,,
HAMPA....

for H


あなたが好きですから。

あなたは本当に好きだ.
私は理由は分からないが.